Sabtu, 16 Maret 2013

Kotaku Palu~Sulawesi Tengah



KenaLi Kotaku; Palu – Sulawesi Tengah

http://pujiatisari.files.wordpress.com/2011/03/peta-palu.jpg?w=307&h=108Sulawesi Tengah merupakan satu dari sedikit wilayah di Indonesia yang memiliki perpaduan serasi antara keindahan alam, kekayaan budaya, dan sejarah yang panjang, yang sangat menarik untuk diketahui, dipelajari, dan tentu saja… untuk DIKUNJUNGI!
Kota Palu
Kota Palu berada di Teluk Palu dengan bentuk daratan berupa dataran rendah di bagian barat serta daerah berbukit di bagian timur. Secara astronomi, Kota Palu terletak antara 0° 35″ – 0° 56″ lintang selatan dan 119° 45″ – 120° 1″ bujur timur tepat berada dibawah garis khatulistiwa. Kota yang jarang turun hujan ini dikenal sebagai salah satu kota terkering di Indonesia dengan udara yang panas pada siang hari dan sejuk pada malam hari. Udara yang panas akan membuat tubuh kita berkeringat sepanjang hari, namun hal ini cukup terobati oleh keindahan pemandangan yang ditawarkan Kota Palu yang membuat sejuk mata. Banyak objek-objek wisata yang berpotensi untuk berkembang di Kota Palu, baik objek wisata alam dan objek wisata budaya. Beberapa objek wisata yang ada antara lain Teluk Palu merupakan salah satu kawasan wisata bahari yang memiliki daya tarik pemandangan pegunungan dan pantai serta memberikan peluang untuk olahraga selancar angin (windsurfing). Pantai Talise memiliki panorama alam yang indah dan cocok untuk melakukan olahraga air seperti selancar angin (windsurfing) dan ski air (waterski). Di pantai ini juga dapat menikmati pemandangan matahari terbenam (sunset) di sela-sela Gunung Gawalise sambil menyaksikan nelayan memancing atau menjala ikan. Pada malam hari tempat ini banyak dikunjungi masyarakat untuk menikmati udara alam yang sejuk sambil menikmati makanan dan minuman khas daerah seperti jagung bakar dan sarabah. Taman Ria, merupakan tempat rekreasi keluarga di pesisir Teluk Palu yang biasanya ramai dikunjungi pada malam hari dan pagi atau sore hari pada hari libur, sambil menikmati makanan dan minuman khas daerah di sepanjang pesisir pantai serta menikmati pemandangan Teluk Palu. Selain pemandangan di sepanjang pesisir pantai, Kota Palu juga menawarkan pemandangan perbukitan yang sangat cocok untuk dikunjungi baik pada siang maupun malam hari sembari santai melihat Kota Palu dan Teluk Palu yang cantik dari ketinggian. Bumi Roviega adalah salah satu objek wisata yang berupa daerah perbukitan di bagian timur Kota Palu. Dari kawasan Bumi Roviega, dapat menikmati pemandangan alam Teluk Palu dan di kawaan ini juga terdapat arena motor cross, padang golf, pusat kerajinan di lokasi MTQ Jabal Nur, Pusat Industri Kecil (PIK) rumah tangga dan lokasi Perguruan Tinggi Negeri Tadulako (UNTAD). Selain itu juga terdapat Cagar Alam Poboya, yaitu hutan lindung dengan luas areal 1.000 hektar dimana terdapat perkebunan kemiri yang dapat dijadikan objek wisata agro. Dari tempat ini dapat menikmati pemandangan matahari terbit (sunrise) dan pemandangan alam Kota Palu serta Gunung Gawalise yang letaknya berhadapan.
http://tepleker.files.wordpress.com/2010/01/sulteng-7.jpg?w=192&h=363&h=275Selain menawarkan objek wisata alam, Kota Palu juga banyak terdapat objek wisata budaya. Diantaranya adalah Sou Raja atau Banua Oge. Sou Raja (rumah Raja) adalah rumah adat yang dibangun dengan perpaduan arsitektur Bugis dan Suku Kaili yang masyarakatnya mayoritas mendiami Lembah Napu. Sou Raja dibangun atas prakarsa Raja Yodjokodi pada sekitar abad ke-19 sebelum masehi yang berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga raja dan sebagai pusat pemerintahan kerajaan. Sou Raja yang berada di Kelurahan Lere merupakan bekas tempat tinggal Raja Djanggola yang dahulu pernah berkuasa di Palu. Ada juga Makam Dato Karama. Dato Karama adalah gelar dari Abdullah Raqie, tokoh yang pertama mengajarkan agama Islam di kalangan suku Kaili di Lembah Palu sekitar awal abad ke-19, masyarakat setempat memberi gelar Dato Karama karena ia memiliki banyak kesaktian. Makam Dato Karama selain mengandung nilai sejarah juga dianggap keramat oleh masyarakat setempat dan pada waktu tertentu masyarakat sering melakukan ziarah ke tempat ini. Di lokasi makam Dato Karama terdapat 21 buah makam, diperkirakan diantaranya terdapat makam istrinya, sedangkan yang lainnya adalah makam pengikutnya. 

Kabupaten Poso
Perjalanan Palu-Poso ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam perjalanan. Pemandangan di sepanjang jalan menuju Poso sangat menakjubkan. Perbukitan yang hijau setia menemani perjalanan.
http://tepleker.files.wordpress.com/2010/01/sulteng-4.jpg?w=193&h=372&h=256Poso merupakan kota pelabuhan utama sekaligus kota pelabuhan dan terminal di wilayah pantai utara Sulawesi Tengah. Bagi wisatawan, Poso adalah kota persinggahan (transit) sebelum melanjutkan perjalanan ke beberapa lokasi wisata di sekitar Poso. Lokasi pertama yang bisa kita kunjungi ketika sesampainya di Kabupaten Poso adalah Danau Poso. Danau terbesar ketiga di Indonesia ini memiliki luas sekitar 32.300 hektar dengan kedalaman rata-rata 500 meter. Letak danau berada pada ketinggian 657 meter di atas permukaan laut. Danau ini memiliki keunikan karena berpasir putih dan kuning keemasan serta bergelombang seperti laut. Panorama alam disekelilingnya sangat indah dan perbukitan serta hutan disekitarnya berdiri tegak memagari danau. Pada setiap bulan Agustus digelar acara Festival Danau Poso yang merupakan acara budaya yang terbesar di wilayah ini. Festival ini diikuti oleh sebagian besar masyarakat desa yang berada di daerah yang indah ini. Setelah puas menikmati pemandangan Danau Poso, kita bisa  melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Saluopa. Air terjun Saluopa terdiri dari 12 tingkat dengan aliran air yang sangat deras, jernih dan sejuk. Di sekitar air terjun ini terdapat hutan yang menambah ke­indahan panorama alamnya. Untuk menuju lokasi air terjun harus ditempuh dengan berjalan kaki sepanjang 500 meter dari tempat parkir kendaraan. Pengunjung dapat naik sam­pai ke tingkat teratas melalui thttp://tepleker.files.wordpress.com/2010/01/sulteng-3.jpg?w=203&h=363&h=299angga yang berada sepanjang air terjun dan tidak berlumut. Perjalanan panjang menuju air terjun rasanya terbayar oleh keindahan air terjun yang sangat menyejukkan mata. Bahkan pengunjung dapat berenang di beberapa kolam dengan airnya yang bening sejernih kristal. Setelah puas bermain air, kita bisa melanjutkan perjalanan kembali. Ada objek wisata Goa Pamona. Pada masa budaya megalith, Goa Pamona berfungsi sebagai tempat penguburan kedua. Mulut Goa Pamona menghadap ke selatan dengan lebar 2,40 meter, memiliki kedalaman sedalam 80 meter dan di dalamnya terdapat 8 buah kamar tempat menyimpan ke­rangka manusia serta bekal kuburnya. APA!?! Kerangka manusia?? Tengkorak?!?
Selain itu di Poso, kita dapat mengunjungi Pusat Kerajinan Rakyat Pembuat Cinderamata. Di tempat ini dapat disaksikan ketrampilan para pengrajin meng­ukir kayu eboni untuk dijadikan souvenir atau cinderamata bagi para wisatawan. Kayu eboni atau lazim disebut kayu hitam merupakan kayu yang langka di dunia dan harganya sangat mahal. Bibit kayu eboni ini terdapat di tengah-tengah hutan, apabila akan digunakan untuk bahan baku meubel dan cinderamata, kayu ini harus sudah berumur ratusan tahun baru dapat diproses atau ditebang. Dasar wanita, begitu dengar kata cinderamata, yang ada di otaknya adalah belanja. Yup! It’s time for shopping, girl!!!
Poso adalah sebuah kota kecil yang teratur dan dapat ditempuh keliling kota ini hanya dengan berjalan kaki. Suasana malam di Kota Poso cukup sepi. Mungkin masih ada pengaruh pasca kerusuhan beberapa waktu silam, sehingga belum banyak masyarakat maupun wisatawan yang datang ke kota ini. 


Kabupaten Parigi Moutong
Kabupaten Parigi Moutong terletak memanjang di sisi barat Teluk Tomini, dengan luas wilayah 6.231,85 km2. Keadaan alam wilayah Kabupaten Parigi Moutong terdiri dari daratan, pantai dan hamparan-hamparan pegunungan yang luas, menyimpan kekayaan objek-objek wisata yang berpotensi menjadi daya tarik bagi kunjungan wisatawan ke tempat ini. Kita bisa menyusuri jalan Trans Sulawesi di sepanjang pesisir Teluk Tomini dari arah selatan menuju utara Kabupaten Parigi Moutong.
Objek wisata pertama yang bisa dikunjungi adalah Air Panas Kayu Boko. Dahulu tempat ini adalah tempat pemandian serdadu-serdadu jepang pada jaman penjajahan Jepang dan memiliki panorama alam yang indah. Di sini juga terdapat Tugu Khatulistiwa. Siapa bilang Tugu Khatulistiwa hanya terdapat di Pontianak, Kalimantan Barat saja. Di Kabupaten Parigi Moutong ternyata juga ada. Dibangun pada tahun 1992 sebagai tanda bahwa desa tersebut berada tepat pada garis khatulistiwa 0o. Pembangunan tugu tersebut dalam rangka kegiatan Latihan Integrasi Taruna Dewasa (LATSITARDA) Nusantara XIII (1991-1992). Satu hal yang disayangkan, keadaan tugu khatulistiwa disini tidak terawat dengan baik. Hanya dibiarkan begitu saja dengan cat yang kian memudar juga rumput liar tumbuh di sekeliling tugu. Padahal sebenarnya tugu khatulistiwa ini dapat menjadi salah satu simbol Kabupaten Parigi Moutong. Melanjutkan perjalanan ke arah utara, kita bisa menuju ke salah satu objek wisata budaya lainnya yaitu Situs Bekas Istana Tinombo. Bangunan bekas istana Tinombo dibangun pada tahun 1930 oleh Pemerintah Belanda, pada masa pemerintahan Raja Tinombolotutu, dengan arsitektur Cina. Bangunan ini terdiri dari atas bangunan induk dengan luas 15,5 x 12,5 meter dan dapur dengan luas 14,5 x 5,5 meter serta memiliki halaman dengan luas 90 x 80 meter. Bangunan ini pernah dipugar dan dirawat oleh ahli waris.
Cukup mendatangi objek wisata budaya, sekarang waktunya melirik objek wisata alam yang ada di Kabupaten Parigi Moutong. Pertama adalah Air Terjun Likunggawali. http://tepleker.files.wordpress.com/2010/01/sulteng-2.jpg?w=202&h=378&h=279Objek wisata ini merupakan tempat olahraga panjat tebing yang curamnya lebih dari 80 meter dan memiliki panorama alam yang indah. Di lokasi ini juga terdapat air terjun dan jalur trekking yang melewati beberapa desa di sekitar, yaitu Jalur Likunggawali–Janaedo (merupakan jalur trekking dari daerah pantai timur ke daerah pantai barat) dan jalur trekking Towera–Janaedo. Pada jalur trekking Linggawali–Janaedo, yang dapat dilihat adalah air terjun Toranaya dan pada waktu-waktu tertentu di lokasi air terjun dapat dilihat burung Walet Sarang putih (Callocalia Fuchipagus). Jalur menuju air terjun masih sangat alami, sehingga  benar-benar harus melewati semak belukar, menyeberangi sungai, lompat diantara batu-batu sungai, juga memanjat untuk mencapai lokasi air terjun.
Setelah  berpetualang mendaki gunung lewati lembah, next destination is… Pantai Nalera! Pantai Nalera terletak tepat di pinggir jalan raya Trans Sulawesi, sehingga untuk mencarinya tidaklah sulit. Pantai ini memiliki panorama alam yang indah karena letaknya yang berhadapan dengan gunung, dengan hamparan pasir putih yang indah dan luas, sehingga cocok untuk tempat mandi dan berjemur. Disini para pengunjung dapat menikmati sunrise dan sunset. Apabila air surut, maka akan terbentuk kolam yang dikelilingi oleh karang yang berwarna warni.
Di sini juga terdapat habitat satwa langka Burung Maleo. Burung Maleo adalah merupakan jenis satwa endemik Sulawesi yang dilindungi. Burung Maleo bertelur di pasir dengan kedalaman sekitar 30 sentimeter. Sesudah bertelur, burung tersebut terbang dan waktu penetasannya secara alamiah dalam selang waktu kurang lebih 80 hari. Telurnya 6 kali lebih besar dari telur ayam, sedang­kan besar Burung Maleo hanya sebesar ayam biasa.
Kabupaten Donggala
Donggala adalah sebuah kota tua yang terletak 34 km timur laut dari Kota Palu dengan arsitektur Belanda yang masih menghiasi kota. Pada masa kolonial, Donggala merupakan kota Pelabuhan dan perdagangan yang cukup sibuk di wilayah Sulawesi Tengah.
http://tepleker.files.wordpress.com/2010/01/sulteng-1.jpg?w=191&h=363&h=265Salah satu pantai yang kudu kita kunjungi ketika berada di Palu, yaitu Tanjung Karang. Tanjung Karang merupakan lokasi wisata terpenting di wilayah ini sekaligus menjadi salah satu objek wisata andalan Provinsi Sulawesi Tengah. Pantai Tanjung Karang terletak sekitar 5 km di utara Donggala. “INDAHNYAAAAAAAAA………..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” pantai berpasir putih dengan warna air laut yang bervariasi dari hijau hingga biru. Masih sangat alami. Seperti namanya, Tanjung Karang juga menawarkan keindahan bawah laut berupa taman laut dengan aneka terumbu karang dan ikan hias. Tidak jauh dari Pantai Tanjung Karang terdapat objek wisata Pusentasi. Merupakan sumur air asin yang letaknya kurang lebih 10 meter dari pantai dengan garis tengah kurang lebih 15 meter dan dengan kedalaman kurang lebih 7 meter. Oleh masyarakat setempat disebut Pusentasi yang artinya pusat laut. Bila air surut maka air di dalam sumur akan naik dan sebaliknya bila pasang naik air di dalam sumur akan surut. Pusentasi berada di dalam kawasan objek wisata Pantai Pasir Putih Pusentasi Towale yang memiliki panorama alam dan udara yang sejuk, serta dihiasi oleh jejeran karang di pinggir pantai yang sangat indah dan berwarna-warni. Konon masyarakat setempat mempercayai bahwa jika kita berhasil menyentuh bagian bawah dari sumur air asin (pusentasi) yang berbentuk tangan dan berdoa agar diberi jodoh maka itu akan menjadi kenyataan. Percaya? Silahkan mencoba.
Belum lengkap rasanya jika mengunjungi Kabupaten Donggala tanpa berkunjung ke Taman Nasional Lore Lindu. Kawasan hutan yang terletak sebagian di Kabupaten Donggala dan sebagian di wilayah Kabupaten Poso memiliki luas 217.991 hektar. Ditetapkan sebagai Taman Nasional karena memiliki potensi flora dan fauna tropis yang berkarakteristik Sulawesi. Di kawasan ini juga terdapat patung-patung megalith dengan berbagai bentuk yang tersebar di sekitar 431 situs di Lembah Bada, Besoa, dan Napu. Selain itu di dalam Taman Nasional Lore Lindu terdapat sebuah danau bernama Danau Lindu. Terletak di tengah Taman Nasional Lore Lindu dan dikelilingi hutan tropis pada ketinggian 960 meter di atas permukaan laut serta habitat flora dan fauna khas Sulawesi. Di tengah Danau Lindu terdapat pulau kecil yang oleh penduduk setempat disebut Pulau Bola dimana terdapat kuburan tua Raja Maralindo yang terbuat dari sebuah batang kayu. Untuk menikmati panorama alam danau, dapat menggunakan motorboat yang disewakan oleh penduduk setempat. Satu hal yang perlu diperhatikan jika ingin berkunjung ke Taman Nasional Lore Lindu, pastikan kondisi kendaraan Anda dalam keadaan baik, karena medan menuju ke lokasi sangat parah dengan kondisi jalan yang rusak, berbukit, dengan jarak yang cukup jauh. Belum lagi jika ingin menuju Danau Lindu hanya dapat ditempuh menggunakan motor selama 1 jam perjalanan dari gerbang Taman Nasional Lore Lindu. Melelahkan. Butuh waktu seharian jika ingin menjelajahi seluruh kawasan taman nasional, bahkan mungkin lebih.
Objek wisata lainnya, yaitu Pemandian Air Panas Bora. Air Panas Bora merupakan objek wisata alam lainnya di Kabupaten Donggala yang terletak di Desa Bora, Keamatan Sigi Biromaru, sekitar 20 km dari Palu. Memiliki panorama alam yang indah dari celah-celah gunung mengalir air panas yang ditampung pada bak penampungan. Air panas ini mengandung belerang yang berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit kulit. Untuk mencapai lokasi ini pengunjung harus melewati perkampungan tradisional.
Selesai dengan kunjungan ke berbagai objek wisata di Provinsi Sulawesi Tengah, rasanya tidak lengkap jika tidak membawa oleh-oleh khas Sulawesi Tengah. Selain pahatan kayu Eboni, ada juga Sarung Donggala yang bisa kita jadikan sebagai oleh-oleh. Tenun Ikat Donggala adalah salah satu kerajinan daerah Sulawesi Tengah dengan motif khas masyarakat Kaili yang masih dikerjakan secara tradisional. Selain itu, ada juga  madu asli, bawang goreng, abon ikan, abon sapi, kacang disko, dan lain-lain yang bisa dijadikan buah tangan.
Hmmm, gimana setelah membaca tulisan di atas? Penasaran nggak dengan indahnya Kota Palu? Yuk jalan-jalan ke sini. Dijamin nggak bakalan nyesel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar